Tuesday, September 14, 2010

Tatsabbut dan Tsabaat

Bismillah.

AllahuAkbar, Allah Maha Besar, Allah adalah sumber dari segala ilmu yang ada di bumi ini dan hanya atas kehendaknya lah kita bisa menikmati manisnya ilmu dari Sang Pencipta. Segala puji juga saya berikan kepada baginda Muhammad S.A.W, penyempurna agama yang Alhamdulillah hingga saat ini masih saya pegang teguh.

Di sore yang dingin ini, saya masih duduk dengan anggun di meja kerja saya. Di saat teman-teman kantor sudah melakukan perjalanan pulang ke rumahnya masing-masing, saya masih berkuatat dengan pemikiran saya yang tidak henti-hentinya menuntut diri saya sendiri untuk melakukan banyak perbaikan dan perkembangan. Saya benar-benar jatuh cinta dengan kegiatan mencari ilmu, baik ilmu dunia maupun dunia akhirat. Seakan-akan ilmu adalah kesenangan yang tidak ada habisnya. Walau demikian, saya tetap mengharapkan bahwa prioritas ilmu yang saya serap adalah ilmu syar'i atau ilmu agama.

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi tentang satu saja adab yang harus dipenuhi oleh siapa saja para pemburu ilmu. Sebuah adab yang selama ini saya jarang sekali perhatikan sehingga saya menyadari bahwa kegiatan belajar saya selama ini sangatlah jauh dari kata maksimal. Sering kita sadari atau tidak bahwa dalam menimba ilmu, kita dihinggapi oleh sikap mudah percaya terhadap ilmu yang kita dapat. Dengan mudahnya segala hal yang kita anggap bermanfaat langsung saja kita serap tanpa mempertanyakan kebenaranya terlebih dahulu. Ini merupakan hal yang perlu kita hindari karena tidak semua yang kita anggap benar bisa bermanfaat bagi kita. Sudah semestinya para pemburu ilmu harus menghadirkan sikap skeptis.

Yang kedua adalah seringkali, contohnya saya, tidak sabar dalam mempelajari sebuah ilmu / kitab. Baru saja dibaca 5-10 halaman, langsung berganti mempelajari ilmu / kitab lain dengan alasan sudah bosan atau tertarik dengan ilmu/kitab yang baru. Ini merupakan sebuah kesalahan yang dianggap sepele namun bisa mempengaruhi kesuksesan kita dalam mencari ilmu.

Untuk itu dari berbagai sumber yang saya dapatkan, ada dua solusi terhadap dua masalah yang telah saya paparkan diatas. Sesuai dengan judul entri ini, dua hal tersebut adalah Tatsabbut dan Tsabaat. Saya pada awalnya sangat asing dengan kedua istilah ini. Namun, setelah menemukan pemahaman keduanya, saya gembira karena ada faedah yang menjadi solusi dari permasalahan saya dalam proses mencari ilmu.

Pertama Tatsabbut, yang berarti meneliti kebenaran berita. Dalam keilmuan hadits, hal ini sangat penting untuk mencari kebenaran sebuah hadits ditinjau dari riwayatnya, sifatny dan keutamaanya. Saya rasa masih banyak hadits-hadits palsu yang saat ini dianggap shaih oleh sebagian orang. Hendaknya bagi para pemburu ilmu, sifat ini harus selalu ditanamkan dalam benak pikiranya. Karena untuk mencari kebenaran, diperlukan ikhtiar terbaik.

Kedua, Tsabat, yang bearti sabar. Sabar disini adalah kita harus mampu menahan diri kita untuk tetap fokus mempelajari sebuah kitab/ilmu hingga selesai. Untuk yang satu ini, saya termasuk yang paling tidak bisa melakuakanya, karena baru sedikit-sedikit sudah bosan mempelajari ilmu dan tidak sabaran ingin mempelajari semua ilmu. Tentu ini adalah sikap yang salah, karena ketika kita memiliki kesungguhan untuk menuntut sebuah ilmu, maka kita harus menyelesaikanya hingga tuntas. Untuk itu kita dituntut untuk menahan diri, bersabar terhadap setiap ilmu yang kita hadapi.

Mudah-mudahan Allah menghendaki kita sebagai insan yang cerdas dengan mematuhi adab-adab dalam menuntut ilmu, sehingga derajat kita dinaikan oleh Allah dan kita diizinkan dapat melihat WajahNya kelak di akhirat nanti. Amin ya Allah :)

Monday, September 13, 2010

Istri Sholeha Dibalik Sang Pencerah


Bismillah.

Pada entry kali ini saya akan sedikit mengulas tentang film Islami yang berjudul "Sang Pencerah". Secara singkat saja, film ini berkisah tentang cerita hidup K.H Ahmad Dahlan, pendiri salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang bernama Muhammadiyah. Dikisahkan bagaimana beliau memperjuangkan akidah Islam yang benar, yang sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Sunnah, ditengah-tengah masyarakat Yogyakarta pada waktu itu yang mempraktekan kebid'ahan. Contohnya seperti tahayul, mistis, menyembah pohon, sesajen dan lain sebagainya.

Secara umum orang-orang akan membahas film ini dari aspek permasalahan akidah, bid'ah, perjuangan nasional dan bibit awal dunia pendidikan di Indonesia. Namun, saya mensoroti hal lain dari film ini. Saya senang dengan adegan ketika K.H Ahmad Dahlan sebagai manusia biasa, mulai goyah imanya karena begitu besar tekanan masyarakat yang melawanya. Nyai Hj Siti Walidah Ahmad Dahlan, istrinya yang dengan setia seumur hidup menemani perjuangan kehidupan beliau, memiliki peran yang begitu luar biasa mulianya. Ia senantiasa hadir memberikan semangat moril dan tidak boleh dilupakan adalah pemahamanya terhadap ilmu agama Islam yang juga luas. Sehingga, sang isteri juga bisa memberikan semangat sang suami dengan mengingatkan kembali ayat-ayat Quran yang mampu menghidupkan kembali komitmen sang kyai untuk terus mensiarkan syariat Islam di daerahnya.

Sesuai dengan sabda baginda Rasulullah yang sudah begitu mahsyur bahwa "Sebaik-baik perhiasan di dunia ini adalah wanita sholeha". Ini adalah sebuah kebenaran yang memiliki faedah yang sangat besar. Ini menjadi petunjuk bagi para ikhwan yang ingin mencari pendamping hidup agar senantiasa tidak tertipu oleh kecantikan wajah akhwat. Sejatinya wanita sholeha memiliki pemahaman ilmu agama Islam yang kuat dan memiliki akhlak yang baik. Bagi para ikhwan, saya menasehati diri sendiri dan juga teman-teman untuk meniatkan dan berdoa diberikan pendamping hidup seorang wanita yang sholeha untuk dijadikan isteri. Tentunya, istri soleha tidak akan merepotkan sang suami untuk memenuhi syahwat dunianya yang nantinya malah akan merusak keimanan suami. Tidak heran kalau di masyarakat kita ini sudah biasa istilah SUSIS, suami takut isteri. Nauudzubillah, ini pasti karena para wanita penyembah dunia yang mengontrol suaminya untuk terus menyuruh memuskan nafsu dunianya seperti meminta jalan-jalan ke luar negeri, belanja produk-produk mahal yang mubazir serta berwisata kuliner yang berlebihan.

Semoga para pembaca, khususnya para ikhwan dijauhkan dari isteri yang bakhil, yang mana mereka hanya menyeru pada syahwat dunia dan akhirnya melupakan keutamaan akhirat. Akhir kata saya berpesan pada diri sendiri untuk terus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah untuk dijadikan hamba yang sholeh agar dijodohkan oleh wanita yang sholeha tuk dijadikan isteri kelak. Amin ya Robbal Alamin.

Sunday, September 12, 2010

Manusia Langit


Bismillah.

Segala puji bagi Allah, tuhan semesta alam, yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya, hanya kepadanya saja segala pujian diberikan. Dia sang pemberi Hidayah bagi siapa saja yang ia kehendaki, Sang pemberi kebaikan dengan menurunkan cahaya-cahaya ilmu guna menerangkan kebenaran, memberikan kejelasan akan segala keutamaan di dunia dan akhirat.

Berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidupku membawaku kedalam perenungan yang sangat dalam. Aku bergulat dengan diriku sendiri mempertanyakan banyak sekali hal yang terjadi dalam kehidupan ini. Dalam dunia komunikasi, ini yang disebut dengan komunikasi intrapersonal (komunikasi dengan diri sendiri). Bagi seorang introvert tulen, justru mungkin komunikasi ini yang paling saya lakukan. Ya benar, komunikasi dengan diriku sendiri. Mencari jawaban, mencari kebenaran.

Takdir Allah juga lah yang menetapkan aku terlahir sebagai seorang yang sangat idealis. Sebuah kenyataan yang memiliki beberapa kosekuensi. Bagaimana tidak? dunia saat ini benar-benar sudah dipenuhi oleh banyak fitnah, dunia sudah sangat berbeda dengan apa yang seharusnya. Idealisme telah mati. Kini manusia di dunia hanya memuji pragmatisme, sebuah keuntungan sementara, hasil ketidaksabaran dan ketidaktahuan atas petunjuk dari ayat-ayat Quran. Tidak kah mereka memperhatikan Quran surat (6) Al-Anam ayat ke-32 berikut ini:

"Dan tiada kehidupan dunia ini kecuali permainan dan bersenda gurau belaka. Dan sesungguhnya kehidupan di akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang takwa. Apakah kamu tidak berakal?"

Sungguh benar perkataan Allah dalam ayat tersebut namun yang menjadi kenyataan di dunia ini adalah manusia telah benar-benar cinta kepada dunia sehingga mereka kehilangan akal. Benar-benar dunia adalah penipu ulang, ia membuat korbannya tertipu bahwa sebenarnya ada kehidupan yang lebih baik yaitu kehidupan akhirat kelak setelah manusia melewati fase kematian.

Ini yang membawaku pada konsep manusia langit. Bukan pendeklerasiaan bahwa diriku adalah manusia langit, bukan itu, tetapi ini hanya pemberontakan dari diriku atas manusia-manusia dunia yang sudah larut pada kesenangan dunia, mereka lupa, ada yang sudah tahu tapi berusaha melupakan sejenak karena begitu nikmatnya keindahan yang ada pada dunia ini. Dan bagi mereka yang telah datang pengetahuan agama kepadanya namun masih mendutaskan ayat-ayat Quran demikian karena diberi kelapangan harta dan kesehatan, sungguh mereka benar-benar mengambil resiko yang besar. Usia kita di dunia ini tidak ada yang tahu, bisa jadi mereka dipanggil Allah terlebih dahulu sebelum bertobat. Sungguh Allah Maha Mengetahui.

Note: Saya pun masih sering tertipu dengan segala kenikmatan duniawi, yuk teman-teman kita semua berusaha menjadi manusia langit supaya kita tidak merasa betah hidup di dunia yang fana ini.

Muqqadimah

Bismillah.

Assalamualaikum.

Dengan mengucap Bismillahirahmanirahim, saya resmikan blog Cahaya Langit ini sebagai blog bernuansa religi terbaru yang saya miliki. Mungkin blog ini merupakan blog yang kesekian kalinya yang saya buat dari berbagai macam blog provider atau blog platform di hampir semua blogosphere. Bermacam-macam nama domain juga tidak kalah ramainya topik yang ditawarkan namun semuanya berakhir dengan nasib yang sama. Tidak pernah diupdate lagi. A dead blog.

Entah karena ingin mengulangi kesalahan yang sama atau mencoba inovasi terbaru, blog ini akhirnya saya buat juga pada akhirnya. Saya paham betul mengenai karakteristik dari sebuah blog yang mana akan dapat mencuri hati bagi pembacanya, namun apabila tidak konsisten diupdate maka sama saja nihil hasilnya.

Insya Allah, dikarenakan beberapa bulan ini saya mendapat berbagai cobaan dan hikmah dalam hidup saya, akhirnya saya menyadari bahwa sumber semangat hidup hanya lah karena Allah. Segala hal senantiasa harus dipersembahkan untuk Allah, untuk menggapai keridhoanya.

Saya kira cukup kata pengantar ini saya ungkapkan. Selanjutnya nantikan untaian kisah-kisah religi berdasarkan kacamata saya sebagai seorang muslim yang masih harus banyak belajar dan mencari kebaikan di dalam ilmu-ilmu Allah.

Wassalam.